
Semakanews.com – TANGGAMUS Lampung– Keluhan tenaga honorer di Kabupaten Tanggamus kembali mencuat. Seorang tenaga honorer yang mengaku bertugas di SMP Negeri 1 Talang Padang menyampaikan keluh kesahnya terkait besaran honor yang dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.( Sabtu 30 Mei 2026)
Menurut pengakuannya, honor yang diterima setiap bulan hanya sebesar Rp.650 ribu. Namun, sebelum uang tersebut dapat digunakan, masih terdapat sejumlah kewajiban yang harus dibayarkan, sehingga nominal yang dibawa pulang berkurang cukup signifikan.
“Honor kami Rp650 ribu. Setelah membayar biaya SKP sebesar Rp100 ribu dan iuran suka duka Rp100 ribu, yang tersisa hanya sekitar Rp450 ribu,” ungkapnya
Ia menjelaskan, biaya SKP dibayarkan kepada pihak yang mengurus penerbitan dokumen tersebut, sedangkan iuran suka duka disetorkan kepada bendahara yang mengelola kegiatan sosial di lingkungan sekolah.
Dengan sisa pendapatan sekitar Rp450 ribu per bulan, dirinya mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar keluarga.
“Belum bayar listrik, belum beli beras, belum beli susu anak, belum isi gas, belum beli kebutuhan dapur. Rasanya sangat berat menjadi tenaga honorer dengan penghasilan seperti ini,” katanya.
Keluhan itu juga disertai harapan agar pemerintah daerah, dinas terkait, serta para wakil rakyat lebih memperhatikan nasib tenaga honorer yang selama ini tetap bekerja menjalankan tugas meski dengan kesejahteraan yang terbatas.
Menurutnya, berbagai janji peningkatan kesejahteraan yang selama ini disampaikan belum dirasakan secara nyata oleh sebagian tenaga honorer di lapangan.
“Yang kami butuhkan bukan sekadar janji. Kami ingin ada perhatian nyata terhadap kesejahteraan honorer yang setiap hari ikut membantu jalannya pelayanan pendidikan,” ujarnya.
Selain persoalan honor, ia juga menyinggung adanya kegiatan yang disebut dikelola oleh organisasi internal sekolah yang menurutnya belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh seluruh anggota.
Keluhan ini menjadi potret keras kondisi sebagian tenaga honorer di daerah. Di tengah tuntutan kerja yang terus berjalan, mereka masih harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan penghasilan yang bahkan tidak mencapai standar kebutuhan minimum.
Keluhan ini menjadi gambaran bahwa masih ada tenaga honorer yang merasa belum memperoleh kesejahteraan yang layak, meski telah mengabdikan diri di lingkungan pendidikan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah maupun instansi terkait mengenai pengakuan tersebut. Oleh karena itu, informasi ini masih memerlukan klarifikasi dan konfirmasi dari pihak-pihak yang disebutkan.(Red)

Tidak ada komentar